Fatih Muftih Mewawancarai Saya Soal Puisi, Buku Puisi, Anugerah Hari Puisi, Spiderman, dan Lain-lain

 

hasan-9
Bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Presiden (seumur hidup) Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta, 13 Oktober 2016. (Foto oleh Fatih Muftih)

FATIH Muftih dari Batam Pos mewawancarai saya untuk lembaran budaya Jembia. Ini wawancara lewat email. Dia kirim pertanyaan, saya menjawab. Maka dia tak berkesempatan mengejar, mendebat, menggali, membantah, mengembangkan jawaban saya dengan pertanyaan yang lebih tajam.

Wawancara Hasan Aspahani,
Peraih Anugerah Buku Puisi HPI 2016

SETIAP SAJAK ADALAH
HASIL EKSPERIMEN

Selamat atas terpilihnya Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering (PSDKSM) sebagai buku puisi terbaik dalam sayembara Hari Puisi Indonesia 2016. Tidur nyenyak malam itu, Bang? 

Ya. Biasa saja. Sehari sebelumnya saya ngobrol dengan Maman Mahayana di PDS HBJ tentang teori sastra, kritik sastra dan lain-lain. Beliau salah satu juri. Tak ada pembicaraan soal siapa yang menang, saya juga lupa, dan tidak penasaran siapa yang menang. Malamnya saya juga menemani Sutardji Calzoum Bachri makan sup ikan dan kami bicara soal puisi juga penulisan semacam biografi kreatifnya. Tak ada pembicaraan soal siapa yang menang dan meskipun beliau salah satu juri juga. 

Apakah sebelumnya Abang sudah berprasangka buku ini akan beroleh nomor? Dengar-dengar, Abang sampai membatalkan kehadiran di World Culture Forum di Bali. 

Tidak ada prasangka sama sekali. Biasa saja. 

WCF d Bali memang mengundang saya. Mula-mula saya iyakan. Semua biaya ditanggung penyelenggara. Saya tinggal beli tiket dan nanti juga akan diganti. Di hari terakhir pun saya masih bilang saya akan berangkat. Tapi ya terlewat begitu saja. Banyak urusan lain dan saya agak menyesal juga tak bisa datang ke Bali itu. Tapi ya untungnya saya bisa hadir di pengumuman HPI di Jakarta dan kebetulan menang. Jadi sesalnya terbayar.

PSDKSM adalah buku puisi keenam. Apa yang sebenarnya Abang tawarkan pada buku ini? Katakanlah sesuatu yang baru, yang oleh Sapardi disebut sebagai perkembangan kepenyairan Hasan Aspahani. 

Buku ini seperti akhir dari sebuah tahapan dalam perjalanan puisi saya. Ada sesuatu yang ingin saya habiskan. Saya selesaikan. Saya tak tahu apa persisnya. Tapi rasanya setelah ini saya akan bikin sajak atau buku sajak yang beda. Saya juga tak tahu apa. Saya akan mencari. Tapi saya akan tahu kalau saya nanti hanya akan mengulangi apa yang pernah saya lakukan dan itu akan saya hindari.

Kalau sedikit boleh bongkar dapur, bagaimana sebenarnya cara Abang menulis puisi? Dalam PSDKSM Abang juga berbicara tentang tomat, ulat, mie instan, klip video, teh limau, hingga Spiderman, senarai yang boleh dikata tidak familiar untuk pilihan kata bagi penyair. 

Cara saya menulis puisi rasanya selalu berkembang. Atau begitulah yang saya inginkan dan saya ikhtiarkan: saya selalu mengembangkan sesuatu. Saya sering bilang setiap puisi adalah hasil dari sebuah eksperimen yang ketika puisi itu saya anggap selesai maka itu berarti eksperimen atas sajak itu saya anggap berhasil.    

Lingkungan budaya di mana saya hidup kaya sekali. Apa saja bisa saya temui atau datang kepada saya. Mula-mula itu terasa banal. Tapi kok saya sok suci sih? Kenapa puisi seakan-akan harus tampil sebagai bangunan bahasa yang sakral? Dengan sikap itu kok jadinya wilayah puisi jadi sempit ya? Karena itu saya jadi riang mencomot apa saja dan menjadikannya imaji dalam sajak saya. Kalau Li Po atau Tu Fu mencomot cahaya bulan, salju, telaga, kedai anggut, perahu, kan itu karena itulah yang ia temukan di kesehariannya. Saya harus menjadi Li Po pada hari ini. Mencomot apa yang saya temui pada hari ini untuk sajak saya.

Abang pengagum Spiderman? Hehehe….

Saya penggemar komik. Di Telimpuh (2009) bagian pertamanya adalah sajak-sajak tentang komik.  Di antara superhero yang manusiawi itu saya kira Spiderman. Peter Parker itu anak SMA ketika mendapat tenaga super. Diasuh paman dan bibi yang miskin. Pamannya dibunuh penjahat secara tak sengaja. Dia kikuk terhadap perempuan. Karir jurnalistiknya juga buruk. Bagi saya Spiderman memang istimewa.

Cukup menarik untuk kemudian mengetahui judul PSDKSM diambil dari potongan hadits Arbain. Bagaimana Abang menemukan sepotong kalimat ini? Apa yang kemudian meyakinkan Abang untuk kemudian memutuskan PSDKSM sebagai judul buku ini? Walau nyatanya tidak ada satu pun puisi berjudul PSDKSM.

Saya lupa ketika buku ini masih berupa manuskrip saya kasih judul apa. Saya selalu mengatur puisi-puisi saya ke dalam kumpulan-kumpulan kecil. Saya kasih judul. Kadang satu dua kumpulan itu saya gabung jadi buku. 

Yang pasti bukan itu judul awalnya. Saya punya kitab hadist Arbain, Shahih Imam Nawawi, dan Bukhari Muslim. Sesekali saya baca. Saya menemukan kalimat ini di akhir sebuah hadits dan terpesona. Ini kalimat paling puitis dalam hadits yang pernah saya baca. Mungkin ada yang lain tapi belum saya baca. Lalu saya pikir ini cocok dengan naskah buku saya. Ini kan bicara soal takdir. Puisi-puisi saya di buku ini yang menyatukannya saya kira persoalan itu. Tapi kan tak ada puisi dengan judul itu? Ya kan tidak apa-apa. Saya beri saja sedikit keterangan. 

Dari 124 puisi, manakah yang menjadi idola Abang?

Ini buku dengan sajak yang variannya lebar. Ada yang hanya tujuh kata. Ada yang empat halaman buku. Beberapa saya suka karena proses menulisnya unik, dan itu saya simpan dalam sejarah personal saya sebagai penulisnya, tapi sajaknya sendiri tak lantas jadi “idola” saya. 

Sekarang mari bicara tentang wawancara klise kepada penyair. Kapan waktu terbaik bagi seorang Hasan Aspahani menulis puisi? Adakah menyisihkan waktu khusus untuk menulis? Karena saya lihat Abang tidak hanya menulis puisi, tapi juga novel, biografi, dan sudah pasti reportase.

Saya selalu ingat Rilke. Ketika kenangan apapun datang kembali kepada kita, maka itulah saatnya menuliskannya menjadi puisi. Kapan dulu banyak puisi saya saya tulis malam hari atau subuh. Belakangan hari saya suka sajak-sajak saya yang saya tulis dalam perjalanan. Makanya hari-hari ini saya banyak membaca lagi sajak-sajak Kirjomulyo “Romansa Perjalanan”. Ini penyair nyaris tak pernah menetap lama di satu kota di Indonesia. Sajak panjangnya mengingatkan pada Lorca. Sajak pendeknya seperti  Basho. Keduanya, seperti Kirjomulyo, adalah pejalan juga.

Saya ingin banyak waktu berjalan sekarang. Dan menulis puisi. Ini keinginan yang mewah sekali.

Seberapa masih ‘percaya’ Abang pada buku puisi untuk bersaing di toko-toko buku? Sudah bukan rahasia lagi, sulit buku puisi untuk laris di pasaran. Adakah strategi literer yang Abang kemudian kembangkan?

 Nah ini harus dilihat dengan logika industri buku. Gramedia tahun ini sedang banyak mencetak buku puisi. Termasuk buku saya ini. Ada pembaca baru kata mereka. Ini kabar gembira tentu saja. Saya harap ini bukan gejala sesaat, tapi mungkin ini hasil dari banyak hal: munculnya komunitas pencinta puisi seperti @malampuisi juga mungkin pengaruh film ya.

Kalau boleh menyebut nama, siapa penyair yang paling memengaruhi atau menginspirasi seorang Hasan Aspahani untuk menulis puisi?

Buku puisi yang saya beli pertama adalah DukaMu Abadi. Sapardi Djoko Damono.  Sajak-sajak di sini meyakinkan saya bahwa menulis sajak itu bisa tampak mudah. Tema-tema ringan, kata-kata biasa, tapi semakin saya tahu puisi ada hal besar bisa ditemukan di balik sajak-sajak si buku itu. Sapardi jelas raksasa di mana saya berdiri di pundaknya. Juga Sutardji dan Chairil. Lalu Joko Pinurbo yang saya temukan bukunya di awal saya serius membentuk model sajak saya sendiri. Joko Pinurbo terutama mengajari saya bahwa banyak celah yang bisa kita masuki jika kita jeli. Dari luar saya mengagumi Pablo Neruda.

Beragam penghargaan puisi sudah Abang raih. Target selanjutnya?

Wah ini bisa jadi sandungan. Saya tak ingin penghargaan, kemenangan atau ketidakmenangan jadi penghalang perjalanan. Itu tentu saja penting sebagai tetenger, patok, tanda, rambu arah, tapi itu semua kan tidak dibawa ke mana-mana.  Itu seperti monumen di tepi jalan. Oh saya sudah pernah sampai di sini, lantas saya harus jalan lagi. Bukan penghargaan yang jadi target.

Untuk tahun 2017 buku apa yang sedang Abang persiapkan?

Banyak. Yang sudah siap dan sekarang ada di satu penerbit adalah “100 Sajak Cinta”.

Saya kira ini yang paling ditunggu-tunggu teman-teman penyair muda, apa saran seorang Hasan Aspahani untuk penyair muda yang akan menerbitkan buku? Kebanyakan mereka masih gusar dan ragu.

Ya buku pertama memang merisaukan. Saya tulis di blog saya soal ini. Bukan umur yang jadi patokan. Tapi berapa lama sudah kita geluti sajak. Sapardi dan Chairil kebetulan sama, mereka menerbitkan buku setelah 12 tahun serius menyajak. Catatan, Chairil tak sempat lihat bukunya terbit. Harusnya siapapun yang melakukan sesuatu dengan serius selama itu ia pasti sudah mendapatkan sesuatu yang bernilai.

Terima kasih atas waktu dan jawabannya, Bang. Tetap sehat untuk berkarya dan pastinya jangan lupa kirim karya ke Jembia.

Terima kasih. Makin tajamlah selalu Jembia.

Iklan

2 pemikiran pada “Fatih Muftih Mewawancarai Saya Soal Puisi, Buku Puisi, Anugerah Hari Puisi, Spiderman, dan Lain-lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s