Delapan Sajak: Maafkan Mereka, Kartu Katalog

chagall_503_recto4-1-2in
Litografi  Marc Chagall

Catatan:  Yang menyenangkan dari menulis puisi adalah kita seperti bermain sulap. Kata lipat-lipat, kita gunting-gunting, kita satukan, dan hopla ketika kita buka muncul sesuatu yang tak terduga. Puisi kadang-kadang seperti itu, semacam montase kata. Ah, kalau begitu puisi itu asal sekadar tempel saja? Tidak juga. Kita toh harus memilih kertas eh kata mana  yang harus kita gunting-gunting itu kan? Kita harus berimajinasi ketika mengguntingnya bukan? Eh, tapi itu bisa benar, kalau kita tak punya perbendaharaan kata yang cukup di kepala kita.  Selamat menikmati.

Maafkan  Mereka

Maafkan aku, kata batu kepada sungai yang merasa selama ini selalu menghalangi-halangi air yang mengalir padanya.

Maafkan aku, kata sungai kepada jembatan yang selama ini suka sekali mendengarkan suara air yang mengalir padanya.

Maafkan aku, kata pohon di pinggir tebing tak jauh dari jembatan yang akarnya sampai ke aliran air di sungai itu.

 

Kartu Katalog

Kartu katalog buku itu ingin sekali berjumpa denganmu. Ia ingin membacamu, memandangi sampulmu, atau terselip di antara halaman-halamanmu. “Mungkin di situlah sebenarnya tempatku,” katanya kepadaku yang siang itu tak berhasil juga menemuimu.

Tapi, “Buku itu sudah lama tidak ada lagi di sini,” kata penjaga perpustakaan itu. Aku tak sampai hati mengabarkan cerita itu kepadanya. Aku tak mau nanti dia merasa telah mendustai aku.

 

Pesan  

Tolong sampaikan, aku dulu juga cair dan mengalir seperti engkau, bisik batu sungai kepada arus yang terburu-buru itu.

Di muara, arus itu tak tahu kepada siapa pesan dari batu sungai tadi harus ia sampaikan. “Apakah kepada laut yang asing ini?”

 

 Ada yang Mencarinya

Sudah berapa lama kau terselip di sini, di antara mereka, diikat dengan tali rafia, lalu ditumpuk begitu saja di lantai di dekat kaca yang tirainya bergoyang-goyang dihembus kipas pendingin ruangan dan membuat cahaya matahari menyilaukanmu?

“Ada seseorang yang aku tunggu, yang telah lama mencariku, yang ingin menemukan dirinya di dalam diriku,” katanya, tapi petugas perpustakaan itu kasihan padamu, dan memindahkanmu dari rak yang makin penuh itu.

 

 

Anak dan Ayah

Ia terbangun tengah malam, mengambil air minum, dan terganggu oleh tangisan seorang anak yang terpisah dari ayahnya yang tadi ia temui dalam mimpinya.

Ia bertemu dengan ayah yang mencari anaknya dalam mimpinya sebelum ia terbangun di pagi hari, lalu bergegas mandi dan berangkat kerja ke kantor dengan kendaraan umum.

Pada jam istirahat makan siang, ia bercerita dan bertanya kepadaku bagaimana caranya mempertemukan anak dan ayah yang ia temui dalam dua mimpi yang berbeda malam tadi.

 

 Di Rumah Penyair

: sdd

Ada beberapa kata yang mengambang gelisah di ruang tengah rumahmu. Malam itu, aku membaca pengantarmu untuk buku puisimu, dan berpura-pura tidak melihat mereka.

“Dia sedang berusaha menyelesaikan Puisi itu lagi,” kata salah satu kata di antara mereka. Sepertinya itu kata mungkin.

“Dia sedang menyunting masa lalunya yang rumit,” ujar kata lain. Aku tak yakin, apakah kata itu harus atau mustahil.

 

Bayangan Pohon

Pohon yang suka dihinggapi angin pagi itu sedang memandangi bayangannya yang memanjang di tepi jalan di belakang komplek sebuah sekolah, ketika sebuah mobil antar-jemput berhenti dan berteduh di sana.

Lelaki itu menatap anaknya yang tiba-tiba bercahaya yang berjalan bergegas ke gerbang sekolah dan merasa dirinya menjadi bayang-bayang dari sesuatu yang tumbuh tinggi antara dia dan anaknya.

 

Dia Harus Cepat Pulang

Dia bernafas dari udara, politik, yang mencekik,                                                                           kisah pembunuhan 24 jam, dari TV berlangganan.

Siaran langsung sidang, gugatan praperadilan.

Dia kecup gelas, bersulang bagi kabar hampir hambar,                                                             sebab telah ia tinggal tadi, rajuk bujuk bidadari gypsi.

Gembala dan ternak mati. Hari terkurung kering kerangka,                                                       Jari-jari rumput menunjuk ke arah datang kaki-kaki api.

Dia menekuri, sobekan surat Jassin, sampul kaset lama,                                                           botol balsam, struk ATM, dan guntingan cerita koran.

Dari pemutar MP3 dia dengar Slank, dia harus cepat pulang.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s