Di Taiwan, Saya Seperti Kerasukan Penyair Klasik Cina

di-hutan
Di Hutan Alishan, Taiwan.
di-sungai
Di Sungai Geng Fang Selatan, Taiwan.

Sajak-sajak berikut ini saya tulis dalam perjalanan. Awal September 2016 lalu, Taiwan Leisure Farm Development Association mengundang sejumlah jurnalis Indonesia bertandang. Terikutlah saya di program bernama Indonesia Media Trip itu.

Kami mengunjungi beberapa daerah wisata pertanian yang seluruhnya ada di pinggiran Taiwan. Kami sama sekali tak menginjak Taipei, ibukota Taiwan, kota yang beberapa tahun lalu pernah saya kunjungi.

Jarak antartempat wisata di sana harus ditempuh minimal satu jam dengan bis yang nyaman, dan jalanan yang sekali saja kami tak menemui ada macet. Bahkan perjalanan itu saja bisa saya nikmati. Dalam perjalanan itulah saya menuliskan puisi-puisi saya. Lima di antara puisi-puisi di bawah ini dimuat di Kompas, 24 September 2016.

Saya membaca sajak-sajak Cina Klasik dari terjemahan Sapardi Djoko Damono. Cina punya sejarah persajakan yang kuat dan panjang. Puisi sangat penting di Cina. Nama-nama Tu Fu, Li Po, dan lain-lain sampai hari ini masih dibaca dan dikaji sajak-sajaknya.  Saya pernah juga mencoba menerjemahkan sajak-sajak Cina dari Bahasa Inggris.

Taiwan memang bukan Cina daratan, negeri Li Po dan Tu Fu. Tapi selama di Taiwan, melihat pemendangan alam yang kami kunjungi, sajak-sajak Cina yang baca, dan saya terjemahkan, seperti mewujud. Saya seperti terbius. Saya seakan kerasukan Li Po.

Gunung, sungai, kupu-kupu, langit, sawah, hujan, semua mengingatkan saya pada sajak-sajak Cina yang pernah saya baca.   Saya mula-mula curiga, jangan-jangan ini sajak yang instan. Tapi saya singkirkan perasaan itu. Tidak, saya membela diri, saya sudah siap untuk menerima ilham. Jika yang dibutuhkan adalah permenungan, saya sudah lebih dahulu dan sejak lama merenungkannya, ya lewat sajak-sajak Cina yang saya baca dan saya terjemahkan itu.  Maka, saya terus saja menikmati momen puitik itu, saya terus menuliskan sajak-sajak saya di gawai saya dalam perjalanan di Taiwan.

Puisi memang bisa menemui kita di mana saja. Selamat menikmati.

Di Flying Cow Ranch

SEMU senja, sesendu lagu penyanyi
dahulu itu.

Situasi yang bikin bening
bayanganmu.

Hujan hilang.

Basah yang kena tanggung.

Aku

Menggaru kesal hati gerutu segatal
getah keladi.

(2016)

Potret Hari Pagi untuk Calem

KITA dan matahari, melintasi padang
rumput yang sama, menyekitar jalan
melingkar.

Padang rumput dan kita, disentuh
matahari yang sama, sesinar terang
memancar.

Matahari dan padang rumput,
memandang kita yang sama, seperti
sapa, “hai, apa kabar?”

(2016)

(Catatan: dimuat di Kompas, 24 September 2016)

Di Tenway Garden 

POHON-pohon cypress di sana menerjemahkan
musim ke dalam warna.

Sebaris bulevar untuk tetamu seperti
aku: pewisata yang lapar.

Aku mungkin tahu apa yang sedang
mereka rencanakan.

*

Ricik dan desir. Manis. Riak dan
semilir. Liris.

Selewat lagu yang pernah kuingat
dan selalu ingin kudengar.

Aku mungkin tahu apa yang sedang
diperbisikkan air dan angin itu.

(2016)

Jalan ke Alishan

CUACA dan jalan ke Alishan
Tak selalu hujan, tapi musti kanan.

Singgahlah aku pada hangat dan
kelat ingatan, seseduh sedih
kenangan.

Kabut bulat di Alishan menumpuk,
Seperti telur dierami gunung yang
induk.

Menetaslah aku sebagai anak
unggas. Bebutiran perasaan kukais
dan kupatuk.

(2016)

Di Teras Penginapan Long Yun

ADA katak melompat di cucuran
hujan, di teras penginapan Long Yun.
Ya, tentu saja ia tidak kedinginan.

Ia mungkin mencari sumur dari
sebuah haiku, di mana ia dulu
mencebur, bikin suara cipratan.

(2016)

Membuat Kue Moci

LESUNG itu, bawa ke tengah arena.

Karena kita akan menarikan elu dan
alu pada hangat nasi pulut.

Mari melingkar. Mari berputar.
Mari bertukar. Bikin lantai bergetar.

*

Lesung itu, ia bayangkan bayangan.

Karena sawah di tepi hutan,
menunggu matahari dari selatan.

Ada yang riang. Ada yang datang.
Cerita panjang. Lembut serbuk
kacang.

(2016)
Di Meja Makan Jaden

KAU mengambil pena besar, artinya
memilih bajak dan tanah, jauh dari
sekolah.

Dari kebunmu, kau petik pucuk teh,
dan sulur waluh putih.

Aku telusuri bebatuan, jalan sinar,
keluar dari kamar berkaca lebar, saat
terang subuh.

Samar.

Dari ladangmu, aku petik tanaman
liar.

Kita makan bersama di meja
melingkar. Piring-piring lauk
berputar.

Dari tawamu, aku ngerti cerita, yang
tak terjemahkan bahasa.

(2016)

(Dimuat di Kompas, Sabtu, 24 September 2016)

Para Pemetik Teh

TAJAM tanganmu, tangan
perempuan Alishan.

Memetik embun yang
disembunyikan.

Semalam banyak hujan, hujan
di tanah Alishan.

Memadat harum yang
dirahasiakan.

(2016)

Berjalan di Hutan

IKUTI saja anjing ladang itu, ikuti
lembut lumut, hangat tanah, dan
genangan hujan lalu.

Jalani saja jalan berbatas kayu,
bertabur batu itu, tandai turus pinus,
semak paku, dan rimbun bambu.

Lewati saja fatamorgana itu,
jembatan tangga naik, terus naik,
menyeberang ke mana kehendak.

(2016)

(Catatan: Dimuat di Kompas, Sabtu, 24 September 2016)

Sapu Tangan Biru Indigo

DENGAN sehelai sapu tangan
bisakah kita ceritakan sebuah
kejutan. Gambar-gambar jenaka
berlompatan ke yang tak terduga.

Cerita tentang tawa kita yang biru
warnanya. Kita celupkan sehelai sapu
tangan dan kita tertawa melihat kita
pada gambar yang ada di sana.

(2016)

Di Zhou Ye Cottage

TEMANKU kucing berkalung lonceng.
Waktu kutanya ia tak mau kasih tahu
nama. Mungkin dia tak mengerti aku
bicara dalam bahasa apa.

Temanku seperindukan ayam
kampung. Waktu lewat di jalan depan
kamarku kucing tadi marah,
mengejar, dan mengusir mereka.

Temanku sepasang angsa yang
bahagia. Rumahnya rakit di kolam
dikelilingi selasar kayu. Subuh itu
kulihat mereka sedang berdoa.

Temanku ikan-ikan koi berenang
seperti kibaran bendera. Di jembatan
menuju restoran, aku berhenti, ingin
sekali menyanyikan lagu kebangsaan.

Temanku kodok boneka kayu. Ia
memangku papan bertulisan.
Kuanggap saja itu petikan sajak yang
dulu pernah kuterjemahkan.

(2016)

Di Forest 18 Restaurant

SEPERTI permainan menyusun
kalimat dengan beberapa kata yang
perangai wanginya berbeda-beda.

“Aku adalah kata yang diucapkan
rumpun serai dalam igauannya,”
berkata kata yang pertama.

“Aku adalah kata yang kau dengar
dari bisikan, hijau daun tanaman
benua selatan,”  kata kedua
menjelaskan siapa dirinya.

“Aku adalah kata seru yang tajam dari
daun-daun mint itu,” ujar kata ketiga
yang nyaring aroma wanginya.

“Dan aku kata yang berbahaya,
gunakan aku dua tetes saja!”
Eucalyptus berkata. Kami pernah
dulu bertemu. Tapi pasti dia sudah
lupa.

Aku menyusun mereka dengan
sejumlah kata sambung dan
beberapa tanda baca. Menjadi
seperti mantra atau doa.

Aku sebenarnya boleh saja
mengucapkan aku di dalam kalimat
yang kususun dari kata-kata ini tapi
itu akan menjadi bukan permainan
lagi.

(2016)

(Dimuat di Kompas, 24 September 2016)

Sawah di Yilan

KALAU aku nanti tinggal di Yilan
aku akan jadi petani dan berbahagia.
Aku mudah jatuh cinta pada hujan,
sawah, padi, dan burung putih.

Kalau kau nanti ingin menemuiku
datanglah di musim panen, ke Yilan,
kau akan tahu kenapa aku memilih
jadi petani, dan kenapa aku bahagia.

(2016)

Tentang Pisau dan Jeruk Pomelo

PISAU yang tak pernah memejamkan
mata, yang sunyi tajamnya, tahu
bahwa sia-sia ia mengajari aku cara

mengupas jeruk pomelo. Buah itu boleh

menyamar dengan nama apa
saja tapi dia tahu bahwa aku tahu

sesungguhnya dia itu siapa.

Pisau yang dingin sekali suhu tubuh-
nya, gemetar gagangnya, selalu ada
kilatan kecil di matanya, akhirnya

bercerita tentang seorang pandai
besi, bara api, suara tempa, dan air
yang kaget. Ia bertanya apakah
aku pernah bertemu dengan mereka.

(2016)

Pagi di Sungai Geng Fang Selatan

PAGI di Sungai Geng Fang Selatan
terdiri dari: suara arus yang terburu-
buru, pepohonan yang saling
bertanya tentang warna hijau,
batu jalanan yang berusaha meng-
ingat semua kaki yang melintasinya,
kupukupu yang mencoba meyakin-
diri tentang apa yang semalam ia
ceritakan pada seseorang yang ter-
nyata penyair, tanaman perdu yang
masih tak percaya bahwa apa yang
ia kira bunga sesungguhnya adalah
daun yang beraneka warnanya, dan

aku yang ingin sekali dianggap
sebagai bagian dari kesemarakan itu.

(2016)

Kupukupu di Sanfu Farm

AKHIRNYA aku tahu apa yang selama
ini dirahasiakan oleh kupukupu.

Di kawasan pertanian Sanfu, diam-
diam ia berbisik padaku: kami ini
sesungguhnya adalah angin yang
sedang menyamar.

Aku tentu tak percaya dia begitu saja.

Kusaksikan, kemudian dia terbang.

Lalu kudengar kupukupu itu
menertawakan aku: kami tidak
sedang terbang, kami hanya
melompat dan hinggap dari ranting
ke ranting angin yang tak mengenali
kami lagi.

(2016)

Di Toucheng Leisure Farm

ANJING yang ramah itu mendekatiku
dan meminta aku mengelus kepala-
nya.

Seorang lelaki asing bertanya apakah
aku dan anjing itu sudah berkawan
lama? Atau bersaudara?

“Adakah sesuatu yang kau kata-
kan padanya sehingga ia tampak
begitu percaya dan suka padamu?”

Tentu kujawab tidak, aku dari
Jakarta, dan anjing itu bahkan tak
tahu Taipei itu ada di mana.

Lalu kami tertawa dan anjing tadi
menggelengkan kepala dan me-
ninggalkan kami berdua.

Ada sepasang mentok yang tampak
sabar, dan di kolam ada ikan mas
yang terus menggoda mereka.

Anjing tadi gagal tidur karena bangku

basah oleh hujan semalam. Ia masih
sangat mengantuk.

Lelaki asing tadi baru saja kembali
dari berlari. Ia berkeringat. Anjing tadi
mengira ia kehujanan.

Aku memotret bangunan gedung di
mana aku tidur, ketika lelaki asing
tadi mengangkat jala di kolam ikan.

“Hai, yang dari  Jakarta, kau kerja apa

dan datang ke sini sebagai apa?
Aku takut salah menebakmu lagi…”

Aku jawab aku wartawan, memang
tak jelas apakah aku bekerja ataukah
sedang liburan di Taiwan.

Mendengar jawabanku, anjing tadi
menegakkan kepala, menatapku, lalu
menjauh berlari dengan gembira.

(2016)

 

Cara Menerbangkan Lentera

YANG menerbangkan lentera itu adalah keinginanmu,
hangat doa-doa, berkobar, membawanya ke langit itu.

Yang mewujudkan doa-doa itu adalah ketabahanmu,
seperti kertas membiarkan api padanya membacamu

(2016)

Di Taoyuan Internasional Airport

MEREKA akan memeriksa tiket penerbanganmu,
mempertanyakan barang bawaanmu, mengecap
tanggal pada lembar paspormu,ingin memastikan
di mana alamat hotelmu, mencocokkan wajah dan
foto identitasmu

Mereka akan melacak perjalanan ke masa lalumu,
sangat ingin tahu keinginan-keinginanmu, membongkar
rahasia-rahasia hidupmu, menghapuskan sebagian
ingatanmu, mengganti nama depan dan belakangmu

Mereka juga akan mencocokkan jumlah mata uangmu,

tanggal kedaluwarsa kartu kreditmu, memanggilmu singgah
di kedai kopi itu, menawarimu barang-barang bebas cukai,
menggodamu dengan judul buku-buku, arloji, minyak
wangi, tembakau, anggur, kemeja,…

Mereka sangat peduli padamu tapi sangat tidak peduli
siapa sebenarnya dirimu.

(2016)
Di Kursi 28G Penerbangan CI 679

AKU memilih kola ketika ditawarkan anggur, teh, atau kopi,
di luar tentu sangat dingin, dan aku bosan dalam kehangatan kabin.

Aku memilih Mariah Carey, setelah mendengarkan Air Supply,
di luar sunyi, dan aku jemu pada pemberitahuan ketinggian terbang.

Aku membaca New York Times, tentang Presiden Obama dan
cerita tentang tangga pesawat ketika ia mendarat di bandara China.

Aku melipat koran dan berpikir bagaimana jika negara di dunia
ini diurus oleh para penyair-penyair saja…

(2016)
Ketika Menggambar di Kaos Putih

KETIKA menggambar di kaos putih itu aku baru menyadari
bahwa ke sini aku datang tidak sendiri.

Aku datang bersama seorang kartunis, seorang penyair, dan
seorang wartawan dengan satu paspor.

Pada paspor itu ada foto wajah seorang yang seperti tahan tawa
pura-pura tak mengenal mereka bertiga.

Mereka bertiga pun pura-pura tak saling kenal, karena begitulah
dulu aturan yang diam-diam mereka sepakati.
Diam-diam mereka sepakat: harus ada seorang anak dari masa
kecil mereka yang boleh menggambar sebebas-bebasnya.

Boleh menggambar wajahnya sekarang: dengan kumis dan
kacamata, topi copet dan kamera tergantung di lehernya.

Dengan kamera tergantung di lehernya, seorang yang wartawan
di antara mereka memotret hujan yang memakai payung.

Hujan yang memakai payung? “Eh, itu tugasku untuk mencatatnya
begitu,” kata seorang penyair di antara mereka.

Demikianlah, kesepakatan yang disepakati dengan longgar, sering
terlupa, atau tak sengaja dilanggar, begitu saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s