Masih akan Terus Ada Puisi Hari Ini dan Seterusnya

 

tanyhi
Foto dari Twitter M Aan Mansyur @hurufkecil 

DI Makassar International Writer Festival (MIWF) Mei 2016 lalu, ada perayaan untuk buku puisi M. Aan Mansyur “Tidak Ada New York Hari Ini” (Gramedia, 2016).  Hari itu, penjualannya sudah menembus 40 ribu, padahal belum sebulan buku itu diluncurkan. Dan angka tersebut terus bertambah.   Mula-mula mari kita ucapkan tahniah kepada penyair dan semua pihak yang terkait dengan ide yang memungkinkan buku ini terbit dan menjadi fenomena.  Ya, ini adalah sebuah fenomena dan kabar baik bagi puisi.

Mudah untuk menjelaskan kenapa buku ini laris. Kalau mau sinis, orang akan bilang ini adalah semata-mata kejelian berdagang: menumpangkan buku puisi (yang tak pernah laris itu) pada popularitas film Ada Apa dengan Cinta 2AADC2  (yang sudah diramalkan bakal mengikuti sekuel terdahulu yang ditonton jutaan orang).

Dalam banyak kesempatan Riri Riza dan Mira Lesmana, sutradara dan produser film AADC2, menjelaskan kenapa puisi hadir dalam film itu dan kenapa M Aan Mansyur yang dipilih untuk menuliskan puisi-puisi tersebut.  Sejak lama Aan – dengan intensitasnya menulis puisi, juga di Twitter yang kerap muncul justru di tengah malam –  masuk dalam radar pantauan Riri dan Mira hingga sampai pada kesimpulan jika Rangga menjadi penyair maka ia adalah sosok penyair dengan perilaku menyair yang dilakoni dan dengan sajak-sajak  yang dikembangkan Aan Mansyur.  Semacam merayakan kegalauan yang abadi.

Tokoh utama film ini Rangga, adalah penulis puisi, ia adalah orang yang berpikir dan berperasaan sebagai seorang penyair. Ia adalah penyair. Karena itu puisi menjadi bagian penting dalam keseluruhan cerita.  Lewat perkembangan karakter Rangga, film ini berhasil menegaskan bahwa menjadi penyair itu tidak lagi harus menjadi orang yang aneh – sebagaimana citra yang nyaris terbentuk dalam film AADC pertama: sinis, jutek, dan penyendiri. Meskipun dulu sosok Rangga yang seperti itu tetap diterima dan dianggap keren.  Rangga yang penyair ini hidup di dunia nyata: mengelola pembukuan kafe sendiri, gagal kuliah, sebatang kara, menanggung beban masa lalu yang menuntut dituntaskan, tinggal di negeri jauh, dan melakukan kejahatan besar: melepaskan seorang gadis dan mengingkari cinta sejatinya.

Karena tuntutan perkembangan karakter itu maka penyair yang dipilih adalah yang hidup, hadir, dan berkarya pada hari-hari ini. Dulu, Chairil dipilih karena Rangga adalah sosok dalam masa pancaroba usia yang mencari teladan. Terpisah dari ibu, ayah yang keras, asosial, ia lalu lari kepada puisi dan menemukan – ah, siapa lagi yang paling tepat kalau bukan Chairil Anwar. Buku skenario Syuman Djaya “Aku” menjadi ikon dalam film itu. Chairil dan sajak-sajaknya adalah referensi Rangga.

Ada yang dengan kritis menilai jauh sekali jarak antara Chairil dan Aan Mansyur, dari sisi manapun keduanya dibandingkan.  Dari Chairil kok jatuhnya ke Aan? Saya kira ini pikiran yang tak adil.  Dua film ini membutuhkan kehadiran penyair dan puisi yang berbeda.  Tugas Aan dalam film AADC2 berbeda dengan tugas Chairil film pertama, sebagaimana tuntutan perkembangan karakter Rangga yang sudah disebutkan di atas.

Untungnya, M Aan Mansyur yang menerima tugas mengejawantahkan sosok Rangga lewat puisi itu melaksanakan tugasnya dengan cemerlang.  Aan tahu benar bahwa ia menulis puisi bukan untuk sekelompok teman-teman penyairnya saja.  Tapi orang yang mengenal Aan juga tahu benar bahwa dia juga punya kegelisahan besar soal minimnya persentuhan sastra – khususnya puisi – dengan anak muda, mereka yang mengisi bagian terbesar dalam demografi negeri ini.  Aan melihat ini kesempatan untuk menjalankan misi kepenyairannya itu.  Ia melanjutkan apa yang dulu dengan sederhana ia giatkan lewat “Perpustakaan Punggung” di kampusnya, kafe baca Biblioholik yang kini ia teruskan dengan perpustakaan “Kata Kerja”, dan enam tahun ini konsisten menjadi kurator MIWF, sebuah pekan gembira sastra yang makin penting peran dan eksistensinya untuk memeratakan perkembangan sastra dan kepenulisan di negeri ini.

Aan tidak lantas mematut-matut diri dengan sajak-sajak yang direndahkan mutunya agar pembaca yang ia bayangkan bisa terangkul.  Ia tetap dan harus menggarap tema cinta – dalam spektrum yang luas – yang terhubung dengan mudah dengan publik pembaca yang ia bayangkan akan membaca sajak-sajaknya, tapi ia dengan cermat dan terukur memperkenalkan bagaimana sajak yang baik dan benar harus ditulis.  Unsur-unsur persajakan diksi, ironi, metafora, simile, paradoks, rima, ritme, bentuk tetap sajak, dan referensi pada penyair lain, ia sisipkan saja dengan tanpa beban.  Dan ia berhasil.

Di meja belajar anak saya, seorang siswi kelas 2 SMA, tiba-tiba saja saya temukan buku puisi “Book of Questions”.   Buku kecil Pablo Neruda disebutkan secara khusus oleh Aan di sebuah sajaknya di buku ini.  Saya mengoleksi buku-buku Neruda dan sebelumnya anak saya setahu saya tak pernah tertarik untuk membacanya. Saya juga tak pernah tahu anak saya tertarik pada puisi, meskipun saya tahu persis dia seorang pembaca buku yang lahap. Rupanya di antara teman-teman sekelasnya sajak-sajak dan buku Aan sedang jadi pembicaraan dan itulah yang membuatnya membaca Neruda.

Saya bayangkan, sebanyak jumlah buku yang terjual itulah para pembaca muda, dipersentuhkan oleh sajak-sajak Aan kepada puisi, puisi yang baik, asyik, dan benar. Saya bayangkan, mereka – seperti anak saya – lalu mulai mencari dan memburu sajak-sajak lain untuk menikmati dan memenuhi keingintahuannya pada puisi.

Dalam konteks uraian di atas, maka saya menganggap ada sebuah puisi di buku “Tidak Ada New York Hari Ini” menjadi menarik dan penting. Sajak itu adalah “Puisi Tidak Menyelematkan Apa Pun”.

Saya menganggap inilah sajak yang menjadi semacam premis seluruh sajak dalam buku ini dan mudah-mudahan para pembaca muda yang baru bersentuhan pertama kali dengan puisi lewat buku ini bisa menangkapnya. Sebagai penyair, Aan mengingatkan, jangan terlalu melambung harapan kita sebagai manusia pada puisi. Tapi sebaliknya juga cukupkan saja sudah sikap kita yang mengabaikan puisi. Puisi tidak menyelesaikan dan menyelamatkan apapun, tapi ia memberi keberanian untuk hidup dan keberanian itulah yang kita perlukan.

Untuk menutup artikel ini, saya kutip bait pertamanya: Puisi tidak menyelamatkan apapun, namun memberi / keberanian membuka jendela dan pintu pada pagi hari. / Menyeret kakiku menghadapi dunia yang meleleh / di jalan-jalan kata yang tidak berhenti berasap.

Karena itu kita boleh berharap bahwa kapan pun kita ingin melihat bahwa puisi masih ada, akan tetap dituliskan, dibaca, dan memberi keberanian untuk menghadapi hidup. ***

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s